Tubuh manusia 75% terdiri dari air.
Otak 74,5%-nya adalah air.
Darah 82% air.
Tulang yang keras pun mengandung 22% air.
Begitulah sejatinya diri kita.
Kita sering menjumpai praktik-praktik pengobatan alternatif yg menggunakan air yg telah didoakan atau dimantrai sebagai media untuk pengobatan.
Disini saya bukan berbicara mengenai klenik dan segala macamnya, yg menyebabkan ke syirikan dan kemusyirikan dalam sisi Islam, tapi dari sisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi modern.
Di Jepang, Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama melakukan penelitian tentang perilaku air.
Air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5 derajat Celcius di laboratorium, kemudian difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membacakan kata, “Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)” di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, “Arigato”. Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata “setan”, kristal berbentuk buruk.
Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.
Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah.
Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005.
Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.
Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya.
Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin.Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat dimana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”
Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan rohani dan pelayanan kita.
Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok. Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu
seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun? 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati? Tapi, itulah — kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu…
Jalanilah hidup yang seimbang – Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama: Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini.
TRIAGE
Triage adalah suatu keadaan dimana kita sulit untuk mengambil suatu keputusan.
Dalam lingkungan kerja atau lingkungan lainnya kita sering menghadapi masalah yang sering pula punya banyak aspek, baik aspek etik, sosial, hukum dll. Bahkan tidak jarang pula kita menghadapi kondisi tsb yang seringkali kita menjadi terbebani. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut :
1. Istri Pak Amat sedang menderita sakit yang amat parah. Menurut dokter hanya ada satu obat yang bisa ditebus di Apotek A, kalau obat itu tidak segera didapat, istri Pak Amat bisa tidak tertolong lagi. Pak Amat segera ke Apotek A untuk membeli obat tersebut, yang ternyata harganya sangat mahal dan dia tak punya cukup uang untuk membelinya. Obat itu tidak bisa ditawar dan tidak bisa dicicil. Pinjam uang ke Saudara dan teman-temannyapun uangnya masih tidak cukup.
Dalam kondisi semacam itu, bolehkah Pak Amat mencuri obat tersebut ???
2. Kisah nyata di Amerika: Seorang pegawai PLN di New York di perintah atasannya untuk memutus jaringan listrik di sebuah apartemen yang dihuni pasangan suami-istri yang berusia lanjut, karena selama 3 bulan belum membayar tagihan listrik. Waktu itu adalah saatnya musim dingin. Dengan pemutusan aliran listrik tersebut, dengan sendirinya alat pemanas tidak dapat digunakan. Pada keesokan harinya, kedua pasangan tersebut ditemukan dalam keadaan tewas.
Bila Anda sebagai pegawai PLN tersebut, apakah Anda akan menjalankan perintah itu ???
3. Kisah nyata: Tentara sekutu terdesak oleh Jenderal Rommel (Jerman) di Afrika Utara. Banyak korban terluka di pihak sekutu akibat perang tersebut, dan banyak pula yang sakit karena perang yg lain (terkena penyakit kelamin). Waktu itu Penicillin baru ditemukan, dan persediaannya sangat terbatas. Jenderal Sekutu sbg panglima perang, ditanya oleh dokter, kepada siapa penicillin itu harus diberikan ?
Bila Anda menjadi Jenderal tsb, kepada siapa penicillin itu harus diberikan ? Kepada tentara yg terluka dimedan perang atau kepada tentara yg menderita penyakit kelamin ?
4. Kisah nyata: Sebuah kapal kecil di tengah malam tenggelam di perairan New York, yang ditumpangi oleh 25 orang termasuk 4 awak kapalnya. Skoci penyelamat, hanya bisa ditumpangi oleh 20 orang saja dan hanya awak kapal yang mengatahui arah dan yang bisa mengemudikan skoci tersebut. Dua orang penumpang merelakan diri meloncat kelaut dan hilang entah kemana, dan tidak ada penumpang lainnya yang rela berkorban seperti dua orang tadi. Akhirnya awak kapal tersebut dengan paksa melemparkan 3 orang penumpang yang lain mencebur kelaut. Skoci penyelamat tsb akhirnya tiba dengan selamat. Empat awak kapal melarikan diri, dan satu orang tertangkap.
Bila Anda sebagai hakim, apa yang akan anda putuskan terhadap awak kapal tersebut ???
Itulah kisah-kisah ekstrim, yang memaksa seseorang untuk mengambil suatu keputusan.
Dalam kisah nomor 3, akhirnya sang Jenderal memutuskan untuk memberikan penicillin kepada prajurit yang “terluka” akibat penyakit kelamin, yang kemudian berhasil mengalahkan Jenderal Rommel yang terkenal dengan julukan Singa Padang Pasir tersebut. Keputusan yang dianggap banyak orang sebagai keputusan yang melanggar norma dan tidak berperikemanusiaan. Sebagai seorang Panglima Perang dia harus mempertanggung jawabkan keputusannya tersebut. Di depan pengadilan militer ia menjelaskan bahwa sebagai Panglima Perang tugasnya adalah memenangkan perang dan hanya prajurit-prajurit yang terkena penyakit kelaminlah yang secara fisik masih kuat dan tidak cacat yang dapat mewujudkan tujuannya. Akhirnya Sang Jenderal diputuskan tidak bersalah.
Mau tidak mau, kita pasti akan mengalami kondisi TRIAGE semacam itu, dan kita harus bisa mengambil suatu keputusan.
Sudah cukupkah pelajaran yang kita dapat selama diklat di Sawangan, untuk menghadapi kondisi2 semacam itu.
Di awal diklat, saya pernah mengatakan pada salah seorang teman kita, tidak akan banyak buah yg kita peroleh selama prajab. – Saya jadi ingat penataran P4 semasa kuliah dulu yang membosankan. Kalau diklat model jaman orde baru masih digunakan ya… semacam itulah hasilnya. Mungkin Pak SBY gak perlu marah-marah melihat audiensnya tertidur, selama diklatnya semacam itu-
Pola pikir kita sendirilah yg perlu diasah dan diasuh untuk bisa memutuskannya.
Hanya satu buah yang paling berharga yang kita peroleh selama PRAJAB, yaitu
PERSAUDARAAN DAN KEBERSAMAAN
Pernah-pernik kisah kehidupan berumah tangga kadang membuat saya sedih, tapi banyak juga yang membuat saja tersenyum ketika membaca atau mendengarnya. Seperti Ibu saya. Pernah suatu ketika ayah saya sedikit marah kepada Ibu saya. Ibu saya tak mau berkomentar atau membalas dengan kemarahan serupa. Hanya saja, langsung masuk ke kamar dan menangis sejadinya. Kalau sudah begitu, ayah saya luluh juga, kemudian minta maaf karena mungkin telah berlaku kasar atau marah yang kadang hanya karena persoalan sepele saja. Untuk mereka berdua, salam cinta, semoga dirumah baik-baik saja
Ada cerita dari dosen dan juga “guru mengaji “ saya. Suatu ketika istrinya bepergian untuk urusan tertentu dan sang suaminya belum berkesempatan menemani karena alasan kesibukan. Perjalanan cukup jauh dan melelahkan. Dalam kondisi seperti itu, istrinya ingin sekali mendapatkan hiburan dari suaminya. Yah, sebuah SMS menanyakan kabarnya cukuplah. Tapi itu tidak dilakukan oleh suaminya. Dan tentu saja, istrinya bete. “Suamiku tega sekali, nggak khawatir apa dengan diriku” begitu kira-kira.
Setelah urusan selesai, pulanglah sang istri ke rumah. Mengucapkan salam lantas masuk kerumahnya. Apa yang terjadi, ternyata suaminya biasa saja. Tak mengekspresikan rasa kangennya kepada istrinya. Dan bagi istrinya, ibarat sebuah pertandingan, itu merupakan pukulan telak, kecewa..kecewa. Awalnya suaminya cuek saja. Tapi pada akhirnya dia menyadari bahwa sikapnya kurang benar. Ya, setidaknya membukakan pintu dan tersenyum sambil basa-basi menanyakan apakah perjalanannya baik-baik saja itu cukup. Tapi sayang, hal itu tak dilakukannya. Dia baru sadar ketika melihat gelagat istrinya yang lagi benar-benar BT alias butuh tatih tayang….
Ada juga kisah imajinatif yang inspiratif….tentang ayam dan bebek.
Suatu ketika sepasang pengantin baru berjalan-jalan menikmati indahnya perkampungan yang masih belum tersentuh bising dan aroma kota. Ketika mereka bercanda, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan “Kuek.kuek..kuek”
“Dengar sayang, ada ayam” kata istrinya
“bukan..bukan, itu suara bebek” kata suaminya.
“nggak, itu suara ayam” istrinya bersikeras.
“istriku..itu suara bebek, suara ayam itu bunyinya kukururyuuuuk, kalau bebek itu ya kuek..kuek..kuek, nah itu bebek sayang, bukan ayam “kata suaminya mencoba menjelaskan.
“Nggak, aku yakin itu suara ayam” kata istrinya
“Sayang, itu bebek, kamu ini..kamuuuuuuuu” suaminya agak kesal
seketika itu basahlah pipi istrinya, dia menangis sambil tersendu tapi tetap berkata.
“Aku yakin itu ayam, bukan bebek” masih kata istrinya.
Kemudian sang suami sadar tak mau ribut lagi dan berkata.
“Ya kamu benar sayang, itu suara ayam” kata suaminya bersamaan dengan suara dari kejauhan ..kuek..kuek..kuek..
Kadang seorang suami memang perlu bersikap demikian. Untuk sesuatu yang kecil dan sepele tak perlu terlalu diributkan. Yang terpenting adalah membangun keharmonisan rumah tangga. Pertikaian dan hancurnya rumah tangga seringkali terjadi karena kita meributkan hal-hal sepele. Maka dari itu, untuk mencegahnya kita perlu sesekali memahami isi hati seorang wanita yang kita cintai itu
Dan pada akhirnya, untuk menghormati dia, seorang wanita yang kita cintai, kita perlu bersikap bijaksana. Itu semua perlu dilakukan, seperti syair dalam lagu pop… karena wanita ingin dimengerti. Itu saja
I LOVE U MOTHER
Ini adalah mengenai Nilai Kasih Ibu dari seorang Anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si Ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si Anak dan membacanya.
Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke warung : Rp20.000
2) Menjaga adik : Rp20.000
3) Membuang sampah : Rp 5.000
4) Membereskan tempat tidur : Rp10.000
5) menyiram bunga : Rp15.000
6) Menyapu halaman : Rp15.000
Jumlah : Rp85.000
Selesai membaca. si Ibu tersenyum memandang si Anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama dan memberikan kepada anaknya kemudian dibaca pula oleh si Anak.
1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan 10 hari -GRATIS
2) Ongkos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) Ongkos mengganti popokmu kalau kamu ngompol -GRATIS
4) Ongkos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
5) Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
6) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS
Air mata si Anak berlinang setelah membaca. Si Anak menatapwajah Ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”. Maafkan saya Ibu. Kemudian si Anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya : “Telah Dibayar”
Jika kamu menyayangi ibumu, “Foward” lah E-mail ini kepada sahabat-sahabat anda.
1 orang : Kamu t ida k sayang ibumu
2-9 orang : Bagus! Ternyata Kamu sayang juga kepada Ibumu
10 / lebih : Waaaaah….. Kamu akan disayangi ibumu dan juga semua orang.
KAMU SAYANG IBUMU????
Mother is the best super hero in the world.
Ada pepatah Jawa yang mengatakan “Ibu iku pengaren katon..”
Kurang lebih artinya : “Ibu itu Tuhan yang bisa dilihat”
Ibu itu ikhlas memberi dan tak mengharapkan kembali apa-apa yang telah diberikannya.
Doa Ibu kepada anak-anaknya lebih banyak didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.
Tapi bagaimana dengan cerita dibawah ini.
Mungkin Ibu Kartini akan menangis bila membacanya.
Kisah berikut, saya peroleh dari sebuah kiriman e-mail beberapa tahun yang lalu.
>>
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya…..
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi.
Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya.
“Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.
Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah “alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, “Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?”
Dengan sigap Rani menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!”
Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
“Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.”
Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini “memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya “malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.
“Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya.
Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan.
”Bunda, mandikan aku !” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. “Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.”
Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah; tubuh si kecil terbaring kaku.
“Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara.
Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata,
”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?”
Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong.
“Ini konsekuensi sebuah pilihan,”lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut.
”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak.
”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba.
Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua. Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 didekatnya
yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
Membuka Topeng “Negara Gagal”
Oleh Amran Nasution *
Hidayatullah.com–Al Amin Nur Nasution ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis dinihari , 10 April 2008, di hotel mewah Ritz Carlton, Jakarta. Bersama anggota Komisi Kehutanan DPR dan Ketua PPP Wilayah Jambi itu diringkus pula Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bintan, Azirwan, dua stafnya, dan seorang wanita muda.
KPK menuduh Amin menerima suap dari Azirwan guna mengalihkan fungsi hutan lindung di Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai barang bukti disita uang Rp 71 juta dan 33.000 dollar Singapore. Peristiwa ini menjadi berita besar, terutama di segmen hiburan TV, karena Amin adalah suami penyanyi terkenal Kristina.
Sore harinya, KPK menangkap dan menahan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah. Ia dituduh menyalah-gunakan Rp 100 milyar dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) milik BI. Uang itu, Rp 68,5 milyar, dipakai membantu penyelesaian perkara pidana sejumlah bekas pejabat BI. Diduga untuk menyuap para pejabat hukum. Sisanya, Rp 31,5 milyar, diberikan ke sejumlah anggota DPR. Waktu itu, tahun 2003, DPR sedang membahas revisi Undang-Undang BI. Sejumlah anggota DPR diperiksa, walau belum ada yang dinyatakan sebagai tersangka.
Tahun lalu, bekas Menteri Kelautan dan Perikanan Rochmin Dahuri yang diadili dalam perkara penyalahgunaan keuangan di departemennya, membongkar banyak nama politisi yang menerima uang darinya. Dunia politik Indonesia pun terguncang. Para politisi ramai-ramai membantah. Hanya mantan Ketua MPR Amien Rais yang berani tampil secara kesatria. Ia mengakui menerima dana sekitar Rp 200 juta dari Rochmin dan ia gunakan untuk kampanye pemilihan Presiden (Pilpres).
Tapi Amien tak kepalang tanggung. Ia sekalian bertekad membongkar segala macam permainan dana politik yang terjadi selama ini, termasuk bantuan dari Amerika Serikat untuk salah satu pasangan calon Presiden (Capres).
Tekad Amien tak kesampaian. Ia kemudian bertemu Presiden SBY di Lapangan Terbang Halim Perdanakusumah Jakarta, lalu isu dana politik yang menjadi silang-sengketa itu diselesaikan secara ‘’adat’’. Kasus itu pun hilang dari wacana, dan Amien Rais tak pernah diadili dalam urusan dana Rochmin. Klop.
Namun sesungguhnya masalah mendasar tak pernah diselesaikan. Maka kasus Amien Rais, dana YPPI untuk DPR, atau kasus Al Amin Nasution dan semacamnya akan terus bermunculan. Para anggota DPR atau kaum politisi boleh marah pada group Slank. Tapi ejekan dalam lagu mereka bahwa di mata Mafia Senayan UUD adalah singkatan dari Ujung-Ujungnya Duit, kian lama akan kian sulit dibantah. Keterlibatan para politisi dengan korupsi – baik di legislatif mau pun eksekutif — adalah isu sehari-hari.
Itu tak lain karena Indonesia telah terjebak dengan sistem politik yang amat koruptif. Sebuah sistem yang menyebabkan para pelaku politik harus melakukan korupsi untuk mempertahankan eksistensinya. Bagaima bisa begitu?
Sejak reformasi 1998, Indonesia menggunakan sistem politik dan ekonomi liberal. UUD 1945 dirombak, DPR kemudian memproduksi begitu banyak undang-undang politik atau ekonomi yang pada prinsipnya adalah liberal.
Sekadar contoh, pekan ini, DPR menyetujui undang-undang yang menyebabkan seluruh pelabuhan laut di Indonesia bebas dikelola perusahaan asing. Padahal negeri paling liberal Amerika Serikat saja melarang pelabuhannya dikelola Dubai Port, sebuah BUMN dari Timur Tengah.
Para pendukungnya menyebut Indonesia memasuki era demokratis. Inilah sistem yang katanya ampuh merubuhkan tembok Berlin dan menggulung komunisme di tahun 1990-an. Indonesia dipuja-puji sebagai negara demokrasi terbesar setelah India dan Amerika.
Buku The End of History and the Last Man, yang ditulis Francis Fukuyama, seorang neo-konservatif, di tahun 1992, bagi banyak pendukung sistem liberal di sini, dijunjung seakan kitab suci. Mereka menganggap seluruh dunia merindukan sistem demokrasi liberal, seperti ditulis buku itu, termasuk Indonesia. (Setelah kegagalan Amerika ‘’menyebarkan demokrasi’’ di Iraq, Fukuyama kerepotan dengan bukunya. Pengajar Johns Hopkins University ini kemudian menjadi pengeritik neo-konservatif, kelompok penghasut perang itu).
Dana 26 Juta Dollar dari Amerika
Padahal sebenarnya di tahun 1991, Profesor Samuel P.Huntington dari Universitas Harvard, sudah memberi syarat bagaimana sebuah negara bisa sukses beralih dari sistem otoritarianisme menjadi demokrasi (baca sebagai demokrasi liberal) di dalam buku The Third Wave: Democratization ini the Late Twentieth Century, yang sering jadi rujukan itu.
Huntington menulis bahwa income per capita menjadi syarat demokratisasi. Semakin tinggi income per capita atau pendapatan rata-rata penduduk sebuah negara, semakin mulus peralihan terjadi. Begitu sebaliknya. Negara dengan penduduk miskin yang beralih menjadi demokratis, menurut studi Huntington, kebanyakan akan kembali lagi menjadi otoritarianisme.
Indonesia jelas masuk kategori berpendapatan rendah . Tapi dalam eforia reformasi 1998, siapa peduli petuah Huntington. Apalagi kemudian ternyata ada dana 26 juta dollar dari lembaga donor Pemerintah Amerika Serikat, US-AID, di balik hiruk-pikuk reformasi (lihat artikel Tim Weiner, The New York Times, 20 Mei 1998). Suatu jumlah yang cukup besar untuk menggerakkan apa saja di Indonesia.
Kini, telah 10 tahun reformasi berlangsung. Lihatlah betapa menyedihkan keadaan negeri ini. Yang lebih memilukan sekaligus memalukan, kini Indonesia termasuk di dalam indeks 60 negara gagal tahun 2007 (failed state index 2007). Indeks itu dibuat Majalah Foreign Policy yang berwibawa, bekerja sama dengan lembaga think-tank Amerika, the Fund for Peace.
Banyak ukuran dalam membuat indeks itu. Tapi secara umum disebutkan, antara lain, pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot. Negara paling gagal adalah Sudan, Iraq, Somalia, dan Zimbabwe. Tapi coba bayangkan Indonesia masuk satu jajaran dengan negeri itu, bersama sejumlah negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin, semacam Timor Timur, Myanmar, Konggo, Haiti, Ethiopia, dan Uganda.
Hari-hari ini, berita radio, TV, dan koran dihiasi kisah penderitaan anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Nasi aking menjadi salah satu menu rakyat. Itu terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Malah di Makassar dan beberapa kota lain, dilaporkan orang meninggal dunia karena berhari-hari tak tersentuh makanan.
Indonesia dinyatakankan badan kesehatan PBB, WHO, sebagai negara dengan korban flu burung terbanyak di dunia. Penyakit HIV-AIDS berkembang tak terkendali sampai ke daerah terpencil . Serangan diare di mana-mana. Bemacam penyakit aneh – seperti lumpuh layu – bermunculan. Pengangguran melonjak.
Artinya, kini kemiskinan telah merebak. Pantaslah Indonesia dikategorikan negara gagal. PBB memperhitungkan hampir separuh penduduk Indonesia hidup di bawah dua dollar perhari. Bagaimana orang bisa hidup dengan uang Rp 18.000 sehari di tengah harga pangan meloncat tak terkendali? berlanjut.. [www.hidayatullah.com]
Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. sewaktu menciptakan para ibu.
Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata
lembut :”Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?”
Dan Tuhan menjawab pelan: “Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan ?
01) Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) Enam pasang tangan!! —
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan…? tsk tsk tsk”
“Tentu saja ! Bukan tangan yang merepotkan Saya,
melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik….” balas Tuhan.
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.
“Bagaimana modelnya ?” Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk-angguk. “Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya : “Apa yang sedang kau
lakukan di dalam situ ?”, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.”Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata : “Saya mengerti dan saya sayang padamu”.
Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun. “Tuhan”, kata malaikat itu lagi,”Istirahatlah”
“Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai”
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi….
Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung,pikul dan derita.
“Apakah ia dapat berpikir ?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat
memberi gagasan, ide dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. “Eh, ada kebocoran disini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan. “Itu adalah air
mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan,air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata….,airmata….”
Akhirnya Malaikat berkata pelan pada pembaca…..:
“JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI KEPADA
ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DI DUNIA INI DAPAT MENGHORMATI, MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA”
Saya biasa ngantor berangakat pagi, walaupun tidak terlalu pagi-pagi amat…
Jam 7.15 pagi ini saya agak heran melihat Bapak-bapak Polisi kita pada berjejer menyetop kendaraan yang lewat disalah satu jalan protokol di Surabaya, yang menyebabkan antrian kendaraan cukup panjang, Biasanya hal semacam ini terjadi bila ada kegiatan upacara di depan “istananya” Gubernur, tapi saya yakin hari ini tidak ada peringatan hari besar nasional.
Eee…. ternyata ada rombongan ratusan sepeda motor gede berbendera merah putih sedang lewat.
Saya langsung ingat, beberapa hari yang lalu saya lihat berita di ANTV tentang adanya serombongan motor gede yang konvoi memperingati 100 tahun KEBANGKITAN NASIONAL yang mengisi BBM di salah satu SPBU yang mengakibatkan ditutupnya SPBU itu untuk umum. Suatu pemandangan yang kontras bila dibandingkan dg antrinya ratusan ibu-ibu membawa “jerigen” untuk membeli minyak tanah yang mulai menjadi barang yang langka, antrian bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mendapatkan gas LPG yang juga mulai ikut-ikutan menghilang. Apalagi bila dibandingkan dengan pemandangan para mahasiswa yang sedang berdemo menolak kenaikan harga BBM.
Sebegitu besar antusis mereka untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, hingga rela menghamburkan bensin yang sebentar lagi akan berganti harga, dg berkonvoi kendaraan, dan menipiskan rasa kesetiakawanan sosial terhadap saudara-saudara mereka yang terpinggirkan. Sungguh naïf sekali.
Mestikah 20 Mei tahun ini kita peringati sebagai 100 tahun kebangkitan nasional ??
Sudah semenjak duduk di sekolah dasar, kita diajarkan oleh guru-guru sejarah kita bahwa tanggal 20 Mei 1908 adalah hari lahirnya Organisasi Boedi Oetomo, yang kemudian secara nasional diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional, karena Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi pelopor kebangkitan nasional di Nusantara. Ya…. cukup hanya sampai sebatas itulah yang kita tahu.
Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, berikut ini lah rangkuman artikel tentang sekilas wajah organisai Boedi Oetomo.
“Boedi Oetomo”
Boedi Oetomo berdiri di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa pemuda-pemuda pelajar di Sekolah Kedokteran STOVIA, yaitu oleh Soetomo dan kawan-kawan.
Anggota Boedi Oetomo hanya terdiri dari golongan elit (Priyayi) dari suku Jawa dan Madura tidak ada anggotanya dari golongan atau suku yang lain.
Tanggal 5 Oktober 1908 adalah Kongres pertama Boedi Oetomo untuk mengesahkan Anggaran Dasar.
Organisasi ini dikelola oleh para Amtenar, yaitu pegawai negeri yang digaji oleh pemerintah Kolonial Belanda. Perama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda.
Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar Boedi Oetomo (BO), tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.
Karena arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja, telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.
Dalam rapat-rapatnya BO bahkan AD-nya, adalah menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Coba bandingkan dengan SDI yang berdiri tanggal 16 Oktober 1905 yang kemudian berganti nama menjadi SI selalu menggunakan bahasa Melayu (sebagai cikal bakal bahasa Indonesia) dalam pelaksanaan kegiatannya.
Bahkan, di belakang BO pun terdapat fakta bahwa, Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895. Dan Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukkan bagi anggota Mason Indonesia.
(Bagi yang pernah baca karya-karya Dan Brown tentunya tahu apa itu Feemasonry)
Boedi Oetomo membubarkan diri tahun 1935 jauh sebelum Indonesia merdeka.
Dari rangkuman tulisan tentang Boedi Oetomo diatas, pantaskah kita memperingati pada tanggal 20 Mei tahun ini, sebagai 100 tahun Kebangkitan Nasional.
Semoga tulisan ini bisa jadi wacana bagi kita semua.
Mohon maaf bila tulisan saya ini atau tulisan saya sebelumnya yang banyak bernada minor. Bukan bermaksud apa-apa. Saya cuma merasa jengah melihat carut marutnya negeri ini.
Hendaklah engkau menjadi orang yang berilmu atau yang belajar atau mendengar ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang ke empat yakni yang tidak termasuk salah seorang dari kelompok orang di atas agar engkau tidak binasa
& Komentar
April 1, 2008 pukul 1:57 am
Air Bisa Mendengar
Tubuh manusia 75% terdiri dari air.
Otak 74,5%-nya adalah air.
Darah 82% air.
Tulang yang keras pun mengandung 22% air.
Begitulah sejatinya diri kita.
Kita sering menjumpai praktik-praktik pengobatan alternatif yg menggunakan air yg telah didoakan atau dimantrai sebagai media untuk pengobatan.
Disini saya bukan berbicara mengenai klenik dan segala macamnya, yg menyebabkan ke syirikan dan kemusyirikan dalam sisi Islam, tapi dari sisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi modern.
Di Jepang, Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama melakukan penelitian tentang perilaku air.
Air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5 derajat Celcius di laboratorium, kemudian difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membacakan kata, “Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)” di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, “Arigato”. Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata “setan”, kristal berbentuk buruk.
Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.
Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah.
Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005.
Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.
adopted from: INAFE 2006
April 5, 2008 pukul 8:26 am
Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya.
Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin.Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat dimana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”
Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan rohani dan pelayanan kita.
Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok. Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu
seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun? 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati? Tapi, itulah — kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu…
Jalanilah hidup yang seimbang – Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama: Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini.
April 9, 2008 pukul 9:19 am
TRIAGE
Triage adalah suatu keadaan dimana kita sulit untuk mengambil suatu keputusan.
Dalam lingkungan kerja atau lingkungan lainnya kita sering menghadapi masalah yang sering pula punya banyak aspek, baik aspek etik, sosial, hukum dll. Bahkan tidak jarang pula kita menghadapi kondisi tsb yang seringkali kita menjadi terbebani. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut :
1. Istri Pak Amat sedang menderita sakit yang amat parah. Menurut dokter hanya ada satu obat yang bisa ditebus di Apotek A, kalau obat itu tidak segera didapat, istri Pak Amat bisa tidak tertolong lagi. Pak Amat segera ke Apotek A untuk membeli obat tersebut, yang ternyata harganya sangat mahal dan dia tak punya cukup uang untuk membelinya. Obat itu tidak bisa ditawar dan tidak bisa dicicil. Pinjam uang ke Saudara dan teman-temannyapun uangnya masih tidak cukup.
Dalam kondisi semacam itu, bolehkah Pak Amat mencuri obat tersebut ???
2. Kisah nyata di Amerika: Seorang pegawai PLN di New York di perintah atasannya untuk memutus jaringan listrik di sebuah apartemen yang dihuni pasangan suami-istri yang berusia lanjut, karena selama 3 bulan belum membayar tagihan listrik. Waktu itu adalah saatnya musim dingin. Dengan pemutusan aliran listrik tersebut, dengan sendirinya alat pemanas tidak dapat digunakan. Pada keesokan harinya, kedua pasangan tersebut ditemukan dalam keadaan tewas.
Bila Anda sebagai pegawai PLN tersebut, apakah Anda akan menjalankan perintah itu ???
3. Kisah nyata: Tentara sekutu terdesak oleh Jenderal Rommel (Jerman) di Afrika Utara. Banyak korban terluka di pihak sekutu akibat perang tersebut, dan banyak pula yang sakit karena perang yg lain (terkena penyakit kelamin). Waktu itu Penicillin baru ditemukan, dan persediaannya sangat terbatas. Jenderal Sekutu sbg panglima perang, ditanya oleh dokter, kepada siapa penicillin itu harus diberikan ?
Bila Anda menjadi Jenderal tsb, kepada siapa penicillin itu harus diberikan ? Kepada tentara yg terluka dimedan perang atau kepada tentara yg menderita penyakit kelamin ?
4. Kisah nyata: Sebuah kapal kecil di tengah malam tenggelam di perairan New York, yang ditumpangi oleh 25 orang termasuk 4 awak kapalnya. Skoci penyelamat, hanya bisa ditumpangi oleh 20 orang saja dan hanya awak kapal yang mengatahui arah dan yang bisa mengemudikan skoci tersebut. Dua orang penumpang merelakan diri meloncat kelaut dan hilang entah kemana, dan tidak ada penumpang lainnya yang rela berkorban seperti dua orang tadi. Akhirnya awak kapal tersebut dengan paksa melemparkan 3 orang penumpang yang lain mencebur kelaut. Skoci penyelamat tsb akhirnya tiba dengan selamat. Empat awak kapal melarikan diri, dan satu orang tertangkap.
Bila Anda sebagai hakim, apa yang akan anda putuskan terhadap awak kapal tersebut ???
Itulah kisah-kisah ekstrim, yang memaksa seseorang untuk mengambil suatu keputusan.
Dalam kisah nomor 3, akhirnya sang Jenderal memutuskan untuk memberikan penicillin kepada prajurit yang “terluka” akibat penyakit kelamin, yang kemudian berhasil mengalahkan Jenderal Rommel yang terkenal dengan julukan Singa Padang Pasir tersebut. Keputusan yang dianggap banyak orang sebagai keputusan yang melanggar norma dan tidak berperikemanusiaan. Sebagai seorang Panglima Perang dia harus mempertanggung jawabkan keputusannya tersebut. Di depan pengadilan militer ia menjelaskan bahwa sebagai Panglima Perang tugasnya adalah memenangkan perang dan hanya prajurit-prajurit yang terkena penyakit kelaminlah yang secara fisik masih kuat dan tidak cacat yang dapat mewujudkan tujuannya. Akhirnya Sang Jenderal diputuskan tidak bersalah.
Mau tidak mau, kita pasti akan mengalami kondisi TRIAGE semacam itu, dan kita harus bisa mengambil suatu keputusan.
Sudah cukupkah pelajaran yang kita dapat selama diklat di Sawangan, untuk menghadapi kondisi2 semacam itu.
Di awal diklat, saya pernah mengatakan pada salah seorang teman kita, tidak akan banyak buah yg kita peroleh selama prajab. – Saya jadi ingat penataran P4 semasa kuliah dulu yang membosankan. Kalau diklat model jaman orde baru masih digunakan ya… semacam itulah hasilnya. Mungkin Pak SBY gak perlu marah-marah melihat audiensnya tertidur, selama diklatnya semacam itu-
Pola pikir kita sendirilah yg perlu diasah dan diasuh untuk bisa memutuskannya.
Hanya satu buah yang paling berharga yang kita peroleh selama PRAJAB, yaitu
PERSAUDARAAN DAN KEBERSAMAAN
April 10, 2008 pukul 1:38 am
Karena Wanita Ingin Dimengerti
Pernah-pernik kisah kehidupan berumah tangga kadang membuat saya sedih, tapi banyak juga yang membuat saja tersenyum ketika membaca atau mendengarnya. Seperti Ibu saya. Pernah suatu ketika ayah saya sedikit marah kepada Ibu saya. Ibu saya tak mau berkomentar atau membalas dengan kemarahan serupa. Hanya saja, langsung masuk ke kamar dan menangis sejadinya. Kalau sudah begitu, ayah saya luluh juga, kemudian minta maaf karena mungkin telah berlaku kasar atau marah yang kadang hanya karena persoalan sepele saja. Untuk mereka berdua, salam cinta, semoga dirumah baik-baik saja
Ada cerita dari dosen dan juga “guru mengaji “ saya. Suatu ketika istrinya bepergian untuk urusan tertentu dan sang suaminya belum berkesempatan menemani karena alasan kesibukan. Perjalanan cukup jauh dan melelahkan. Dalam kondisi seperti itu, istrinya ingin sekali mendapatkan hiburan dari suaminya. Yah, sebuah SMS menanyakan kabarnya cukuplah. Tapi itu tidak dilakukan oleh suaminya. Dan tentu saja, istrinya bete. “Suamiku tega sekali, nggak khawatir apa dengan diriku” begitu kira-kira.
Setelah urusan selesai, pulanglah sang istri ke rumah. Mengucapkan salam lantas masuk kerumahnya. Apa yang terjadi, ternyata suaminya biasa saja. Tak mengekspresikan rasa kangennya kepada istrinya. Dan bagi istrinya, ibarat sebuah pertandingan, itu merupakan pukulan telak, kecewa..kecewa. Awalnya suaminya cuek saja. Tapi pada akhirnya dia menyadari bahwa sikapnya kurang benar. Ya, setidaknya membukakan pintu dan tersenyum sambil basa-basi menanyakan apakah perjalanannya baik-baik saja itu cukup. Tapi sayang, hal itu tak dilakukannya. Dia baru sadar ketika melihat gelagat istrinya yang lagi benar-benar BT alias butuh tatih tayang….
Ada juga kisah imajinatif yang inspiratif….tentang ayam dan bebek.
Suatu ketika sepasang pengantin baru berjalan-jalan menikmati indahnya perkampungan yang masih belum tersentuh bising dan aroma kota. Ketika mereka bercanda, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan “Kuek.kuek..kuek”
“Dengar sayang, ada ayam” kata istrinya
“bukan..bukan, itu suara bebek” kata suaminya.
“nggak, itu suara ayam” istrinya bersikeras.
“istriku..itu suara bebek, suara ayam itu bunyinya kukururyuuuuk, kalau bebek itu ya kuek..kuek..kuek, nah itu bebek sayang, bukan ayam “kata suaminya mencoba menjelaskan.
“Nggak, aku yakin itu suara ayam” kata istrinya
“Sayang, itu bebek, kamu ini..kamuuuuuuuu” suaminya agak kesal
seketika itu basahlah pipi istrinya, dia menangis sambil tersendu tapi tetap berkata.
“Aku yakin itu ayam, bukan bebek” masih kata istrinya.
Kemudian sang suami sadar tak mau ribut lagi dan berkata.
“Ya kamu benar sayang, itu suara ayam” kata suaminya bersamaan dengan suara dari kejauhan ..kuek..kuek..kuek..
Kadang seorang suami memang perlu bersikap demikian. Untuk sesuatu yang kecil dan sepele tak perlu terlalu diributkan. Yang terpenting adalah membangun keharmonisan rumah tangga. Pertikaian dan hancurnya rumah tangga seringkali terjadi karena kita meributkan hal-hal sepele. Maka dari itu, untuk mencegahnya kita perlu sesekali memahami isi hati seorang wanita yang kita cintai itu
Dan pada akhirnya, untuk menghormati dia, seorang wanita yang kita cintai, kita perlu bersikap bijaksana. Itu semua perlu dilakukan, seperti syair dalam lagu pop… karena wanita ingin dimengerti. Itu saja
April 11, 2008 pukul 3:40 am
I LOVE U MOTHER
Ini adalah mengenai Nilai Kasih Ibu dari seorang Anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si Ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si Anak dan membacanya.
Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke warung : Rp20.000
2) Menjaga adik : Rp20.000
3) Membuang sampah : Rp 5.000
4) Membereskan tempat tidur : Rp10.000
5) menyiram bunga : Rp15.000
6) Menyapu halaman : Rp15.000
Jumlah : Rp85.000
Selesai membaca. si Ibu tersenyum memandang si Anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama dan memberikan kepada anaknya kemudian dibaca pula oleh si Anak.
1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan 10 hari -GRATIS
2) Ongkos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) Ongkos mengganti popokmu kalau kamu ngompol -GRATIS
4) Ongkos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
5) Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
6) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS
Air mata si Anak berlinang setelah membaca. Si Anak menatapwajah Ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”. Maafkan saya Ibu. Kemudian si Anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya : “Telah Dibayar”
Jika kamu menyayangi ibumu, “Foward” lah E-mail ini kepada sahabat-sahabat anda.
1 orang : Kamu t ida k sayang ibumu
2-9 orang : Bagus! Ternyata Kamu sayang juga kepada Ibumu
10 / lebih : Waaaaah….. Kamu akan disayangi ibumu dan juga semua orang.
KAMU SAYANG IBUMU????
Mother is the best super hero in the world.
April 11, 2008 pukul 8:09 am
Ibu Kartini-pun akan menangis.
Ada pepatah Jawa yang mengatakan “Ibu iku pengaren katon..”
Kurang lebih artinya : “Ibu itu Tuhan yang bisa dilihat”
Ibu itu ikhlas memberi dan tak mengharapkan kembali apa-apa yang telah diberikannya.
Doa Ibu kepada anak-anaknya lebih banyak didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.
Tapi bagaimana dengan cerita dibawah ini.
Mungkin Ibu Kartini akan menangis bila membacanya.
Kisah berikut, saya peroleh dari sebuah kiriman e-mail beberapa tahun yang lalu.
>>
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya…..
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi.
Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya.
“Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.
Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah “alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, “Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?”
Dengan sigap Rani menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!”
Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
“Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.”
Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini “memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya “malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.
“Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap.
Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya.
Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan.
”Bunda, mandikan aku !” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. “Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.”
Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah; tubuh si kecil terbaring kaku.
“Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara.
Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata,
”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?”
Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong.
“Ini konsekuensi sebuah pilihan,”lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut.
”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak.
”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba.
Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup diatasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua. Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 didekatnya
yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
April 17, 2008 pukul 4:32 am
Membuka Topeng “Negara Gagal”
Oleh Amran Nasution *
Hidayatullah.com–Al Amin Nur Nasution ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis dinihari , 10 April 2008, di hotel mewah Ritz Carlton, Jakarta. Bersama anggota Komisi Kehutanan DPR dan Ketua PPP Wilayah Jambi itu diringkus pula Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bintan, Azirwan, dua stafnya, dan seorang wanita muda.
KPK menuduh Amin menerima suap dari Azirwan guna mengalihkan fungsi hutan lindung di Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai barang bukti disita uang Rp 71 juta dan 33.000 dollar Singapore. Peristiwa ini menjadi berita besar, terutama di segmen hiburan TV, karena Amin adalah suami penyanyi terkenal Kristina.
Sore harinya, KPK menangkap dan menahan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah. Ia dituduh menyalah-gunakan Rp 100 milyar dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) milik BI. Uang itu, Rp 68,5 milyar, dipakai membantu penyelesaian perkara pidana sejumlah bekas pejabat BI. Diduga untuk menyuap para pejabat hukum. Sisanya, Rp 31,5 milyar, diberikan ke sejumlah anggota DPR. Waktu itu, tahun 2003, DPR sedang membahas revisi Undang-Undang BI. Sejumlah anggota DPR diperiksa, walau belum ada yang dinyatakan sebagai tersangka.
Tahun lalu, bekas Menteri Kelautan dan Perikanan Rochmin Dahuri yang diadili dalam perkara penyalahgunaan keuangan di departemennya, membongkar banyak nama politisi yang menerima uang darinya. Dunia politik Indonesia pun terguncang. Para politisi ramai-ramai membantah. Hanya mantan Ketua MPR Amien Rais yang berani tampil secara kesatria. Ia mengakui menerima dana sekitar Rp 200 juta dari Rochmin dan ia gunakan untuk kampanye pemilihan Presiden (Pilpres).
Tapi Amien tak kepalang tanggung. Ia sekalian bertekad membongkar segala macam permainan dana politik yang terjadi selama ini, termasuk bantuan dari Amerika Serikat untuk salah satu pasangan calon Presiden (Capres).
Tekad Amien tak kesampaian. Ia kemudian bertemu Presiden SBY di Lapangan Terbang Halim Perdanakusumah Jakarta, lalu isu dana politik yang menjadi silang-sengketa itu diselesaikan secara ‘’adat’’. Kasus itu pun hilang dari wacana, dan Amien Rais tak pernah diadili dalam urusan dana Rochmin. Klop.
Namun sesungguhnya masalah mendasar tak pernah diselesaikan. Maka kasus Amien Rais, dana YPPI untuk DPR, atau kasus Al Amin Nasution dan semacamnya akan terus bermunculan. Para anggota DPR atau kaum politisi boleh marah pada group Slank. Tapi ejekan dalam lagu mereka bahwa di mata Mafia Senayan UUD adalah singkatan dari Ujung-Ujungnya Duit, kian lama akan kian sulit dibantah. Keterlibatan para politisi dengan korupsi – baik di legislatif mau pun eksekutif — adalah isu sehari-hari.
Itu tak lain karena Indonesia telah terjebak dengan sistem politik yang amat koruptif. Sebuah sistem yang menyebabkan para pelaku politik harus melakukan korupsi untuk mempertahankan eksistensinya. Bagaima bisa begitu?
Sejak reformasi 1998, Indonesia menggunakan sistem politik dan ekonomi liberal. UUD 1945 dirombak, DPR kemudian memproduksi begitu banyak undang-undang politik atau ekonomi yang pada prinsipnya adalah liberal.
Sekadar contoh, pekan ini, DPR menyetujui undang-undang yang menyebabkan seluruh pelabuhan laut di Indonesia bebas dikelola perusahaan asing. Padahal negeri paling liberal Amerika Serikat saja melarang pelabuhannya dikelola Dubai Port, sebuah BUMN dari Timur Tengah.
Para pendukungnya menyebut Indonesia memasuki era demokratis. Inilah sistem yang katanya ampuh merubuhkan tembok Berlin dan menggulung komunisme di tahun 1990-an. Indonesia dipuja-puji sebagai negara demokrasi terbesar setelah India dan Amerika.
Buku The End of History and the Last Man, yang ditulis Francis Fukuyama, seorang neo-konservatif, di tahun 1992, bagi banyak pendukung sistem liberal di sini, dijunjung seakan kitab suci. Mereka menganggap seluruh dunia merindukan sistem demokrasi liberal, seperti ditulis buku itu, termasuk Indonesia. (Setelah kegagalan Amerika ‘’menyebarkan demokrasi’’ di Iraq, Fukuyama kerepotan dengan bukunya. Pengajar Johns Hopkins University ini kemudian menjadi pengeritik neo-konservatif, kelompok penghasut perang itu).
Dana 26 Juta Dollar dari Amerika
Padahal sebenarnya di tahun 1991, Profesor Samuel P.Huntington dari Universitas Harvard, sudah memberi syarat bagaimana sebuah negara bisa sukses beralih dari sistem otoritarianisme menjadi demokrasi (baca sebagai demokrasi liberal) di dalam buku The Third Wave: Democratization ini the Late Twentieth Century, yang sering jadi rujukan itu.
Huntington menulis bahwa income per capita menjadi syarat demokratisasi. Semakin tinggi income per capita atau pendapatan rata-rata penduduk sebuah negara, semakin mulus peralihan terjadi. Begitu sebaliknya. Negara dengan penduduk miskin yang beralih menjadi demokratis, menurut studi Huntington, kebanyakan akan kembali lagi menjadi otoritarianisme.
Indonesia jelas masuk kategori berpendapatan rendah . Tapi dalam eforia reformasi 1998, siapa peduli petuah Huntington. Apalagi kemudian ternyata ada dana 26 juta dollar dari lembaga donor Pemerintah Amerika Serikat, US-AID, di balik hiruk-pikuk reformasi (lihat artikel Tim Weiner, The New York Times, 20 Mei 1998). Suatu jumlah yang cukup besar untuk menggerakkan apa saja di Indonesia.
Kini, telah 10 tahun reformasi berlangsung. Lihatlah betapa menyedihkan keadaan negeri ini. Yang lebih memilukan sekaligus memalukan, kini Indonesia termasuk di dalam indeks 60 negara gagal tahun 2007 (failed state index 2007). Indeks itu dibuat Majalah Foreign Policy yang berwibawa, bekerja sama dengan lembaga think-tank Amerika, the Fund for Peace.
Banyak ukuran dalam membuat indeks itu. Tapi secara umum disebutkan, antara lain, pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot. Negara paling gagal adalah Sudan, Iraq, Somalia, dan Zimbabwe. Tapi coba bayangkan Indonesia masuk satu jajaran dengan negeri itu, bersama sejumlah negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin, semacam Timor Timur, Myanmar, Konggo, Haiti, Ethiopia, dan Uganda.
Hari-hari ini, berita radio, TV, dan koran dihiasi kisah penderitaan anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Nasi aking menjadi salah satu menu rakyat. Itu terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Malah di Makassar dan beberapa kota lain, dilaporkan orang meninggal dunia karena berhari-hari tak tersentuh makanan.
Indonesia dinyatakankan badan kesehatan PBB, WHO, sebagai negara dengan korban flu burung terbanyak di dunia. Penyakit HIV-AIDS berkembang tak terkendali sampai ke daerah terpencil . Serangan diare di mana-mana. Bemacam penyakit aneh – seperti lumpuh layu – bermunculan. Pengangguran melonjak.
Artinya, kini kemiskinan telah merebak. Pantaslah Indonesia dikategorikan negara gagal. PBB memperhitungkan hampir separuh penduduk Indonesia hidup di bawah dua dollar perhari. Bagaimana orang bisa hidup dengan uang Rp 18.000 sehari di tengah harga pangan meloncat tak terkendali? berlanjut.. [www.hidayatullah.com]
*Penulis Direktur Institute for Policy Studies
http://hidayatullah.com
Mei 7, 2008 pukul 9:40 am
” Sebelum IBU Tercipta….”
Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. sewaktu menciptakan para ibu.
Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata
lembut :”Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?”
Dan Tuhan menjawab pelan: “Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan ?
01) Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) Enam pasang tangan!! —
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan…? tsk tsk tsk”
“Tentu saja ! Bukan tangan yang merepotkan Saya,
melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik….” balas Tuhan.
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.
“Bagaimana modelnya ?” Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk-angguk. “Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya : “Apa yang sedang kau
lakukan di dalam situ ?”, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.”Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata : “Saya mengerti dan saya sayang padamu”.
Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun. “Tuhan”, kata malaikat itu lagi,”Istirahatlah”
“Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai”
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi….
Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung,pikul dan derita.
“Apakah ia dapat berpikir ?” tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat
memberi gagasan, ide dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. “Eh, ada kebocoran disini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan. “Itu adalah air
mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan,air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata….,airmata….”
Akhirnya Malaikat berkata pelan pada pembaca…..:
“JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI KEPADA
ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DI DUNIA INI DAPAT MENGHORMATI, MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA”
Mei 16, 2008 pukul 4:06 am
100 Tahun Kebangkitan Nasional??
Saya biasa ngantor berangakat pagi, walaupun tidak terlalu pagi-pagi amat…
Jam 7.15 pagi ini saya agak heran melihat Bapak-bapak Polisi kita pada berjejer menyetop kendaraan yang lewat disalah satu jalan protokol di Surabaya, yang menyebabkan antrian kendaraan cukup panjang, Biasanya hal semacam ini terjadi bila ada kegiatan upacara di depan “istananya” Gubernur, tapi saya yakin hari ini tidak ada peringatan hari besar nasional.
Eee…. ternyata ada rombongan ratusan sepeda motor gede berbendera merah putih sedang lewat.
Saya langsung ingat, beberapa hari yang lalu saya lihat berita di ANTV tentang adanya serombongan motor gede yang konvoi memperingati 100 tahun KEBANGKITAN NASIONAL yang mengisi BBM di salah satu SPBU yang mengakibatkan ditutupnya SPBU itu untuk umum. Suatu pemandangan yang kontras bila dibandingkan dg antrinya ratusan ibu-ibu membawa “jerigen” untuk membeli minyak tanah yang mulai menjadi barang yang langka, antrian bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mendapatkan gas LPG yang juga mulai ikut-ikutan menghilang. Apalagi bila dibandingkan dengan pemandangan para mahasiswa yang sedang berdemo menolak kenaikan harga BBM.
Sebegitu besar antusis mereka untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, hingga rela menghamburkan bensin yang sebentar lagi akan berganti harga, dg berkonvoi kendaraan, dan menipiskan rasa kesetiakawanan sosial terhadap saudara-saudara mereka yang terpinggirkan. Sungguh naïf sekali.
Mestikah 20 Mei tahun ini kita peringati sebagai 100 tahun kebangkitan nasional ??
Sudah semenjak duduk di sekolah dasar, kita diajarkan oleh guru-guru sejarah kita bahwa tanggal 20 Mei 1908 adalah hari lahirnya Organisasi Boedi Oetomo, yang kemudian secara nasional diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional, karena Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi pelopor kebangkitan nasional di Nusantara. Ya…. cukup hanya sampai sebatas itulah yang kita tahu.
Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, berikut ini lah rangkuman artikel tentang sekilas wajah organisai Boedi Oetomo.
“Boedi Oetomo”
Boedi Oetomo berdiri di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa pemuda-pemuda pelajar di Sekolah Kedokteran STOVIA, yaitu oleh Soetomo dan kawan-kawan.
Anggota Boedi Oetomo hanya terdiri dari golongan elit (Priyayi) dari suku Jawa dan Madura tidak ada anggotanya dari golongan atau suku yang lain.
Tanggal 5 Oktober 1908 adalah Kongres pertama Boedi Oetomo untuk mengesahkan Anggaran Dasar.
Organisasi ini dikelola oleh para Amtenar, yaitu pegawai negeri yang digaji oleh pemerintah Kolonial Belanda. Perama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda.
Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar Boedi Oetomo (BO), tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.
Karena arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja, telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.
Dalam rapat-rapatnya BO bahkan AD-nya, adalah menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Coba bandingkan dengan SDI yang berdiri tanggal 16 Oktober 1905 yang kemudian berganti nama menjadi SI selalu menggunakan bahasa Melayu (sebagai cikal bakal bahasa Indonesia) dalam pelaksanaan kegiatannya.
Bahkan, di belakang BO pun terdapat fakta bahwa, Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895. Dan Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukkan bagi anggota Mason Indonesia.
(Bagi yang pernah baca karya-karya Dan Brown tentunya tahu apa itu Feemasonry)
Boedi Oetomo membubarkan diri tahun 1935 jauh sebelum Indonesia merdeka.
Dari rangkuman tulisan tentang Boedi Oetomo diatas, pantaskah kita memperingati pada tanggal 20 Mei tahun ini, sebagai 100 tahun Kebangkitan Nasional.
Semoga tulisan ini bisa jadi wacana bagi kita semua.
Mohon maaf bila tulisan saya ini atau tulisan saya sebelumnya yang banyak bernada minor. Bukan bermaksud apa-apa. Saya cuma merasa jengah melihat carut marutnya negeri ini.
Mei 27, 2008 pukul 10:05 am
Hendaklah engkau menjadi orang yang berilmu atau yang belajar atau mendengar ilmu, dan janganlah engkau menjadi orang ke empat yakni yang tidak termasuk salah seorang dari kelompok orang di atas agar engkau tidak binasa